Monday, 22 December 2014

Antara Anugerah dan Ujian



Kehadiran seorang anak adalah anugerah luar biasa bagi orang tua di manapun, termasuk saya. Anugerah itu adalah putra pertama saya, Elang namanya. Kini usianya tujuh tahun. Dia tumbuh seperti anak normal lainnya, namun ada sedikit perbedaan dari teman-temannya. Dia didiagnosa mengalami kelainan mata yaitu “strabismus esotropia.” Bahasa awamnya adalah “juling”, namun bagi saya kata “juling” terlalu “menyakitkan” sehingga saya sama sekali tak sampai hati mengatakannya kapan pun dan kepada siapa pun. Intinya, letak bola matanya tidak simetris dan menjorok ke dalam. Meskipun begitu, fungsi matanya terbilang cukup baik alias tidak ada kelainan dalam persepsi jarak, arah, atau lainnya.

Keadaan matanya yang seperti itu membuatnya sering menjadi bahan tertawaan, ejekan teman-teman, atau sekedar bahan bisik-bisik orang saat kami sedang berjalan-jalan di mana pun. Hati ibu mana yang tak teriris melihat anaknya seperti itu. Dibalik “kekurangan”-nya itu, ia tumbuh sebagai anak yang periang, supel, dan cerdas. Mungkin itulah “rumus kesempurnaan” di mata Sang Pencipta.

Sebagai orang tua tentu kami berusaha untuk mengobatinya semampu kami. Sejak bayi, Elang pernah menjalani berbagai pengobatan dari mulai medis hingga alternatif. Tahun 2013 kemarin, Elang operasi mata. Harapan membumbung tinggi akan kesembuhan Elang.

Rasanya saya adalah satu-satunya orang tua yang paling menderita di dunia. Tapi setelah saya bolak-balik ke RS Mata Cicendo, ternyata saya tak sendirian. Banyak yang seperti Elang, bahkan lebih parah lagi. Di sanalah saya merasa diberi kekuatan. Mulai saat itulah saya seolah bertransformasi menjadi seorang ibu yang tegar. Dan sejak itulah saya selalu bersyukur atas segala yang Allah beri. Termasuk menerima anak saya apa adanya. Tak hanya sekedar anugerah, tapi sekaligus ujian untuk kami. Jadi, bagi para orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan, jangan pernah bersedih atau berputus asa. Fisik yang terbatas bukan berarti terbatas meraih kesuksesan. Siapa tahu anak kita kelak menjadi anak yang sukses di mata manusia dan juga Sang Pencipta.




Saat Ku Hadir Ke Dunia



Sebuah peristiwa penting telah terjadi  dalam sejarah hidupku dan juga orang tuaku. Tanggal 20 Maret 1986 aku terlahir ke dunia sebagai anak ke tiga dan perempuan satu-satunya dengan berat 2,8 Kg. Hari Kamis sekitar jam 11 malam merupakan hari istimewa bagi kedua orang tuaku, karena kehadiranku sangat ditunggu-tunggu. Ya, karena ibuku sangat ingin memiliki anak perempuan dan alhamdulillah Allah mengabulkannya.

Orang tuaku memberi aku nama “Isma Nurhalyda”. Sejak kecil, seringkali aku bertanya apa arti namaku itu. Bapakku bilang karena aku lahir hari Kamis dan tepat pada malam Isra Mi’raj, maka Bapakku memberi nama depan “Isma”. Sedangkan nama panjangku “Nurhalyda” karena saat itu sedang muncul yang namanya KOMET HALLEY.  Nur artinya cahaya dan Halley berasal dari komet halley. Sehingga namaku dapat diartikan “Malam Isra Mi’raj yang bercahaya komet Halley”. Bagiku nama itu sangat berarti dan penuh makna. Karena komet Halley sendiri hanya muncul setiap 76 tahun sekali. Kata Bapak nanti kalau aku sudah berusia 76 tahun komet Halley akan muncul lagi. Aku bilang, “waah Pa kok lama banget yaa, nanti aku keburu tua donk Pa?” Bapakku hanya tersenyum sambil berkata, “Iya nanti pas Isma udah nenek-nenek”. Aku pun cemberut dan tak terima bapakku berkata seperti itu. Padahal memang begitu kan kenyataannya? Hehe…

Aku bersyukur Allah telah memilihkan Bapak dan Ibuku sebagai orang tuaku. Ibuku sangat cerewet, tapi sangat perhatian. Sedangkan Bapakku sangat tegas dan rada galak, tapi penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Aku juga bersyukur memiliki dua orang kakak laki-laki yang begitu baik dan menyayangiku, meskipun saat kecil aku sering jadi “bulan-bulanan” mereka. Maklum aku adik bungsu, jadinya aku sering “dibecandain” sama mereka. Tentunya sampai aku nangis dan teriak-teriak, “Mamaaah Bapaaaa”.
Aku memang anak yang cengeng dan rada pelit, jadi sepertiya mereka takkan berhenti berulah sampai aku menangis. Rasanya mereka puas banget kalau melihat aku menangis tersedu-sedu.

Mamah dan Bapak, terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu yang tak henti-hentinya kau curahkan untuk anak bungsumu ini, bahkan sampai aku telah menikah sekalipun. Mah Pa, mungkin aku takkan pernah bisa membalas segala kabaikanmu, sejak aku bayi hingga saat ini. Mah, bahkan aku tak akan pernah bisa memngganti setiap tetes ASI yang dengan ridho engkau berikan untuk anakmu ini. Takkan pernah bisa mengganti setiap malam yang kau lalaui tanpa tidur demi menjaga diriku. Takkan pernah bisa mengganti setiap baju-baju lucu yang sengaja engkau belikan untuk anak perempuanmu ini. Takkan pernah bisa mengganti setiap keringat yang bercucuran karena lelah mengasuhku siang dan malam. Dan takkan pernah bisa mengganti peluh bapakku yang dengan giat membanting tualng agar bisa menghidupi aku dan meyekolahkanku. Aku takkan pernah bisa walau aku seorang milyarder sekalipun…

Maafkan Isma Mah Pa, Isma masih saja sering menyusahkan mamah bapak sampai detik ini. Alih-alih aku membahagiakanmu, aku malah sering membuatmu terluka. Maafkan anakmu ini mah. Doakan Isma agar jadi anak yang sholehah untuk mamah dan bapak, jadi istri yang sholehah untuk suami tercinta, dan menjadi ibu terbaik untuk anak-anak tersayang. Pokoknya doakan anakmu ini agar sukses dunia akhirat. Terima kasih karena doa kalian selalu mengiringi setiap langkahku. Doaku untuk kalian, semoga Allah membalas segala kebaikan, perjuangan, dan pengorbananmu selama ini dengan surga-Mu yang indah dan abadi. I love you so much…

Terima kasih juga untuk kakak-kakakku A Geri dan A Yudhi atas segala sayang dan perhatian kalian untuk adikmu yang cengeng, pelit, dan keras kepala ini. Maafkan atas segala khilaf yang pernah Isma lakukan kepada kalian. Kalian memang kakak-kaka terbaik.

Semoga kelak kita dapat berkumpul di Surga-Nya nanti bersama Rasulullah, para sahabatnya, dan dengan orang-orang  yang kita cintai saat di dunia. Mudah-mudahan cinta kita tetap bersemi sampai akhirat nanti… Aamiiin…

Tasikmalaya
8 September 2014
15:51


Riwayat Kehidupan



1986       - 20 Maret Lahir
1991       - TK Aisiyah Bandung
1992       - SDN Cicadas XXI Bandung
1998       - SMPN 14 Bandung
2001       - SMAN 1 Bandung
                - Jadian sama seseorang dan 1,5 bulan kemudian putus (bertekad tidak akan pacaran lagi)
2003       - Memakai kerudung
2004       - Kuliah di UNPAD jurusan Sastra Inggris
                - Desember dilamar seseorang
2005       - Memakai Jilbab
2006       - 27 Agustus menikah dengan mantan pacar satu-satunya ;)
                - long distance
2007       - Januari cuti kuliah
                - Januari ikut ke Ende-NTT dengan suami tercinta
                - Januari Hamil anak pertama
                - Mei ke danau kelimutu
                - Agustus pulang ke Bandung sendiri dalam keadaan hamil besar (7 bulan)
                - Oktober Elang lahir
2008       - Melanjutkan kuliah yang sempat tertunda dan kembali long distance
                - Multi peran sebagai anak, istri, ibu, dan mahasiswi
2009       - KKN
                - Masih berkutat dengan perkuliahan + skripsi yang cukup menguras energi, waktu, dan pikiran
                - Masih long distance
2010       - Lulus dan wisuda
                - Papi pindah ke Tasik
                - Ikut ke Tasik dengan Elang yag masih 2 tahun
                - Usaha kue di sebuah kontrakan kecil
2011       - Pindah kontrakan ke yang lebih besar
                - Mei, anak ke-2 lahir, Athir Assyazani
2012       - Sibuk usaha kue lebaran
2013       - Sakit typhus sampai di rawat di RS (April), padahal belum pernah sebelumnya
                - Pindah rumah ke rumah sendiri, alhamdulillah nggak jadi kontraktor lagi
                - Sibuk pengobatan Elang ke Bandung sampe operasi bulan September
                - Athir dirawat karena disentri, sedangkan Papi harus ke Jakarta
                - Ternyata saya hamil lagi tanpa disadari
                - Bisnis kue lebarannya libur dulu
2014       - Lahir anak ke-3 di bulan April, Raihana Aninda
                - Menikmati hari-hari menjadi “Full-Time Mom”